Langsung ke konten utama

Membedah Latar Belakang Lahirnya Sekte-Sekte dalam Islam


Mengapa umat islam terpecah belah menjadi 73 kelompok dikarenakan ada unsur politik yang jelas ini berkaitan dengan masalah kekuasaan atau soal kepemimpinan, seperti yang di jelaskan oleh imam abu hasan ‘asyafi’i yang artinya
“perbedaan pendapat yang pertama kali dikalangan kaum muslimin setelah nabi wafat adalah perbedaan dalam soal kepemimpinan”.

Periodesasi ketika nabi Muhammad SAW lahir pada tahun 571 dan wafat pada 632. Beliau diangkat menjadi rasul pada tahun 622-623. Pada masa periodesasi ini tidak ada problem ataupun masalah yang terjadi ketika para sahabat berselisih tentang perbedaan pendapat, baik itu dalam menentukan suatu hukum  para sahabat mengembalikan semua permasalahan kepada nabi Muhammad SAW. Dan ini masa masa islam masih dalam keadaan kaffah.
Periode 632-634
Kronologis pembaitan khalifah Abu Bakar As-Shiddiq setelah nabi Muhammad wafat. Pada saat itu banyak yang tidak percaya bahwa nabi sudah wafat, kemudian Abu Bakar berpidato sehingga para sahabat sadar bahwa nabi benar-benar telah wafat. Pada saat itu kaum Anshar hendak membaiat Saad bin Ubadah sebagai kholifah di Saqifah Saidah, kemudian kaum muhajirin mendatangi Saqifah untuk melakukan suatu perundingan, walaupun sempat terjadi tarik menarik antara kaum Anshar dan Muhajirin, yang mana terjadi suatu kesepakatan untuk membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah.
Periode 634-644
Prosesi pembaiatan Khalifah Umar bin Khattab,yang mana pada saat itu Abu Bakar sakit dan menyarankan umat muslim memilih pengganti beliau karena mengingat kondisi dari Abu Bakar itu sendiri. Kaum muslimin menyerahkan siapa yang berhak menggantikan kekhalifahan baliau, Abu Bakar mengamanatkan Umar bin Khattab untuk dijadikan sebagai khalifah pengganti Abu Bakar.
Periode 644-656
Khalifah Umar bin Khattab pada saat itu membentuk tim formatur yang beranggotakan enam orang diantaranya adalah Utsman bin Affan, Ali binAbi Tholib, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awam dan Abdullah bin Umar yang menjadi saksi, Abdullah bin Umar itu sendiri adalah putra dari Umar bin Khattab, adanya Abdullah bin Umar ini agar tidak adanya unsur nepotisme. Dari jumlah enam orang mengerucut menjadi tiga orang yaitu, Utsman bin Affan, Ali binAbi Tholib dan Abdurahman bin Auf, kemudian Utsman bin Afan dan Ali bin Abi Thalib menyerahkan keputusan kepada Abdurahman bin Auf. Abdurahman bin Auf berkonsultasi kepada tokoh tokoh Muhajirin dan Anshor dan semua condong kepada Utsman bin Affan. Sehingga Khalifah yang terpilih atas saran dari tokoh tokoh Muhajirin dan Anshor serta perwira-perwira militer adalah Utsman bin Affan.
Periode 656-662
Setelah kaum pemberontak membunuh Utsman bin Affan, kaum pemberontak membujuk Abdullah bin Umar untuk di baiat menjadi kholifah. Kemudian kaum pemberontak meminta Ali bin Abi Tholib untuk dibaiat menjadi kholifah. Pada mulanya Ali bin Abi Thalib menolak tetapi karena di paksa maka ia mau menjadi Kholifah asalkan dibaiat secara umum oleh kaum muslimin di masjid dan kaum pemberontak membawa secara paksa Thalhah bin Ubaidillah dan Zubai bin Awam untuk membaiat Ali bin Abi Tholib. Sebagian sahabat di Madinah ada yang tidak membaiat Ali bin Abi Tholib karena menunggu suasana tenang dan terkendali sperti Sa’ad bin Abi Waqash, Ibnu Umar, Ahban bin Shaifi dan Muhammad bin Washlamah

Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin ABi Tholib, kaum muslimin berada dalam suasana yang kondusif, tenang, harmonis dan damai karena beberapa faktor yaitu ekspansi militer islam dan kebijakan politik pada saat itu. Benih benih Al-Fitnah Al-Kubro lahir pada masa enam tahun terakhir dari periode pemerintahan Usman bin Affan da nada beberapa kelompok yang berselisih antara golongan Ali bin Abi THolib dan golongan Muawiyah.

Terjadilah suatu peperangan antara kelompok Ali bin Abi Tholib dengan Muawiyah dan perang tersebut diakhiri dengan adanya suatu perundingan yang dinamakan Tahkimi yaitu perundingan antara kelompok Ali bin Abi Tholib dengan Putra Mesir Umayah. Dari kelompok Ali bin Abi Tholib yang dimotori oleh Abu Musa al-Asy’ari dengan berkata ”kita semua bersatu dan dengan ini dinyatakan sayidina Ali sudah turun dari jabatanya”. Akan tetapi dari kelompok Muawiyah yang dimotori oleh Aur bin Ash kemudian memolitiki perkataan Abu Musa al-Asy’ari dengan perkataan “dikarenakan Abu Musa sudah menurunkan Ali maka saya menaikkan Muawiyah bin Abi Sufyan”. Akhirnya terpecahlah beberapa kelompok yaitu, Syiah pro dengan Ali bin Abi Tholib, Khawarij Pro dengan Muawiyah dan Murji’ah yang berprinsip mengembalikan semua urusan kepada Allah SWT. 

Ditulis oleh : Kurfatul Jannah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkembangan Hadis Pada Masa Khulafa’ Ar-Rasyidin

Periode ini disebut ‘Ashr-At-Tatsabut wa Al-Iqlal min Al-Riwayah (masa membatasi dan menyedikitkan riwayat). Nabi SAW wafat pada 11 H. beliau meninggalkan dua pegangan dasar bagi pedoman hidup, yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar, periwayatan hadis tersebar dan terbatas. Bahkan pada masa itu Umar melarang para sahabat untuk memperbanyak meriwayatkan hadis, dan sebaliknya, umar menekankan agar para sahabat mengerahkan perhatianya untuk menyebarluaskan Al-Qur’an. Ada dua sahabat yang meriwayatkan hadis, yaitu a.        Dengan lafazh asli, yaitu menurut lafazh yang mereka terima dari Nabi SAW b.       Dengan maknanya saja, yakni mereka meriwayatkan maknanya karena tidak hapal lafazh asli dari nabi SAW. Pada masa ini, Khalifah Umar mempunyai gagasan untuk membukukan hadis, namun maksud tersebut diurungkan setelah beliau melakukan shalat istikharah.

Ulul Albab

Kita semua pasti sudah mengenal Newton, si raja teori gravitasi. Penemuan rumus gravitasinya membuat namanya melambung dan tersohor seantero dunia. Bak gayung bersambut, generasi demi generasi mengenalnya sebagai tokoh sains legendaris. Namun, dalam kesempatan kali ini, saya mengajak anda sebentar melintasi lorong waktu sebelum si Newton menemukan teori gravitasinya. Alkisah, konon ceritanya Newton suatu ketika di sela-sela waktunya, ia duduk di bawah pohon apel. Tiba-tiba sebuah apel jatuh. Ada versi cerita yang mengatakan bahwa apel itu jatuh tepat mengenai kepalanya, ada juga yang mengatakan bahwa apel itu jatuh tepat di depannya. Fenomena buah apel jatuh dari pohonnya tersebut mengusik pikiran si  Newton. Pikirannya berkecamuk seambrek pertanyaan. "Kenapa apel tersebut jatuhnya ke bawah?" "Kenapa bukan ke atas?" "Kenapa jatuhnya kok selalu lurus ke bawah?" "Kenapa jatuhnya kok cepat?" "Berapa kecepatan jatuhnya?" b...